[DRAFT] Tipologi Kerentanan Iklim pada Penghidupan Berbasis Pertanian: Kabupaten Timor Tengah Selatan

1 Pendahuluan

Penghidupan berbasis pertanian kini makin rentan terhadap perubahan iklim, tetapi informasi mengenai potensi resiko dan kebutuhan adaptasi mereka masih sangat terbatas. Draft dokumen ini disusun untuk mengisi kekosongan ini dengan mengevaluasi berbagai jenis kerentanan yang mempengaruhi mata pencaharian berbasis pertanian di tingkat provinsi. Kami melakukan penilaian kerentanan untuk mengidentifikasi risiko serta penyebabnya, dan potensi adaptasi, dengan fokus pada peningkatan taraf hidup, keberlanjutan produksi komoditas-komoditas kunci, dan pengelolaan lahan secara menyeluruh.

Mengingat tingginya keanekaragaman lanskap di Kabupaten Timor Tengah Selatan, kami memfokuskan perhatian pada kecamatan-kecamatan dengan fitur biofisik dan sosial-ekonomi yang mirip. Ini membantu kami mempermudah tugas dalam mengidentifikasi risiko yang identik antar kecamatan. Kami mendefinisikan area-area homogen ini, atau ‘tipologi,’ dengan menggunakan pengelompokan K-means. Pengelompokan ini didasarkan pada komposit dari indikator biofisik dan sosial-ekonomi. Untuk mempermudah proses pengelompokan, kami menggunakan analisis PCA untuk menyederhanakan dimensi data.

  • Analisis ini bertujuan untuk mengidentifikasi ‘tipologi’ kecamatan-kecamatan, yang memiliki karakter sosial-ekonomi dan lingkungan yang mirip di Kabupaten Timor Tengah Selatan, dengan menggunakan pengelompokan K-means pada data yang disederhanakan oleh PCA.

  • Tipologi tersebut kemudian digunakan untuk mendeskripsikan konteks kerentanan penghidupan berbasis pertanian akibat perubahan iklim di Kabupaten Timor Tengah Selatan dan potensi intervensi untuk meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim.

2 Deskripsi wilayah & Metodologi

Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) adalah sebuah provinsi yang terletak di sebelah tenggara Indonesia yang berbatasan dengan Laut Flores di sebelah Utara, Samudera Hindia di sebelah Selatan, Timor Leste di sebelah timur dan Provinsi Nusa Tenggara Barat di sebelah Barat. Kabupaten Timor Tengah Selatan memiliki luas wilayah sebesar 46,452.38 kilometer persegi. Timor Tengah Selatan merupakan provinsi kepulauan yang terdiri atas 1.192 pulau yang sebagian besar pulau tersebut tidak berpenghuni. Lima pulau besar di TTS dikenal dengan nama ‘Flobamorata’ yang terdiri atas Pulau Flores, Sumba, Timor, Alor dan Lembata.

Kabupaten Timor Tengah Selatan merupakan rumah bagi sekitar 5,466,290 penduduk berdasarkan data tahun 2022. Kabupaten ini memiliki tingkat ketimpangan ekonomi yang sedang atau moderat, seperti yang tercermin dalam rasio Gini senilai 0.34 pada semester 2 tahun 2022. TTS mencatatkan angka 65,90 untuk Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di tahun yang sama.

Produk Domestik Bruto (PDB, Atas Dasar Harga Berlaku) untuk Kabupaten Timor Tengah Selatan adalah 118.72 triliun Rupiah Indonesia pada tahun 2022. Hal ini menempatkan provinsi TTS sebagai Provinsi urutan ke 27 secara nasional. PDB Provinsi TTS pun masih berada di bawah rata-rata PDB nasional, dimana rata-rata PDB Provinsi yaitu 563.13 triliun rupiah.

Pada tahun 2022, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan di Kabupaten Timor Tengah Selatan memainkan peran penting dalam perekonomian lokal, dengan kontribusi sebesar 29% terhadap total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Pertanian memiliki peran penting dalam perekonomian provinsi, dengan diperkirakan 818,853 petani beroperasi di Timor Tengah Selatan, menurut Survei Pertanian Antar Sensus (SUTAS) tahun 2018 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Jumlah petani dengan luas lahan garapan <0.5 ha menjadi yang paling dominan dengan jumlah 351,220 rumah tangga. Padi, jagung, dan ubi kayu menjadi tanaman pangan yang paling populer untuk diusahakan oleh petani di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Sedangkan pisang, mangga, jeruk, bawang merah dan cabai rawit menjadi komoditas hortikultura strategis di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Komoditas perkebunan seperti kelapa, jambu mete, kopi dan kakao menjadi yang paling populer untuk dibudidayakan oleh masyarakat di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Dalam sektor perikanan, masyarakat Kabupaten Timor Tengah Selatan lebih memilih perikanan tangkap dibandingkan dengan perikanan budidaya.

Unit analisis terkecil: Kecamatan

Fitur Sumber Satuan
1 Jarak ke perkebunan Peta Tutupan Lahan 2020, KLHK Meter
2 Jarak ke jalan BIG Meter
3 Jarak ke konsesi Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan (2017 kepohutan) Meter
4 Jarak ke konsesi perhutanan sosial KLHK Meter
5 Jarak ke sungai BIG Meter
6 Jarak ke area bekas terbakar BIG Meter
7 Jarak ke badan air Peta Tutupan Lahan 2020, KLHK Meter
8 Persentase area pertanian Peta Tutupan Lahan 2020, KLHK %
9 Persentase area perkebunan Peta Tutupan Lahan 2020, KLHK %
10 Persentase area berhutan Peta Tutupan Lahan 2020, KLHK %
11 Persentase area semak belukar Peta Tutupan Lahan 2020, KLHK %
12 Persentase badan air Peta Tutupan Lahan 2020, KLHK %
13 Persentase savanna Peta Tutupan Lahan 2020, KLHK %
14 Jarak ke deforestasi Peta Tutupan Lahan 2020, KLHK Meter
15 Luas area deforestasi Peta Tutupan Lahan 2020, KLHK Hektar
16 Persentase area yang bisa ditanami Peta Tutupan Lahan 2020, KLHK %
17 Potensi erosi RUSLE t/ha/tahun
18 Indeks Bahaya Banjir RBI BNPB Indeks
19 Indeks Bahaya Longsor RBI BNPB Indeks
20 Indeks Bahaya Kekeringan RBI BNPB Indeks
21 NDWI 2020 Landsat 8 Indeks
22 NDMI 2020 Landsat 8 Indeks
23 Indeks kekeringan WORLDCLIM 2.1 Indeks
24 Rata-rata suhu tahunan WORLDCLIM 2.1 °C
25 Rata-rata curah hujan tahunan WORLDCLIM 2.1 mm/tahun
26 Rasio elektrifikasi Potensi desa BPS 2019 Rasio
27 Total sekolah tinggi (SMA sederajat) Potensi desa BPS 2019 Unit
28 Total Perguruan Tinggi Potensi desa BPS 2019 Unit
29 Total Rumah Sakit Potensi desa BPS 2019 Unit
30 Total fasilitas kesehatan Potensi desa BPS 2019 Unit
31 Total pasar Potensi desa BPS 2019 Unit
32 Total minimarket Potensi desa BPS 2019 Unit
33 Kejadian banjir 2018-2019 Potensi desa BPS 2019 Kejadian/tahun
34 Korban banjir 2018-2019 Potensi desa BPS 2019 Korban jiwa/tahun
35 Kejadian banjir bandang 2018-2019 Potensi desa BPS 2019 Kejadian/tahun
36 Kejadian kebakaran hutan dan lahan 2018-2019 Potensi desa BPS 2019 Kejadian/tahun
37 Jumlah sistem peringatan dini bencana alam Potensi desa BPS 2019 Unit
38 Jumlah embung Potensi desa BPS 2019 Unit
39 Jumlah pasar desa Potensi desa BPS 2019 Unit
40 Penderita gizi buruk 2018 Potensi desa BPS 2019 Individu
41 Luas Daerah Irigasi KemenPUPR Hektar
42 Jumlah bulan basah WORLDCLIM 2.1 Bulan
43 Elevasi DEMNAS mdpl
44 Kelerengan DEMNAS Derajat
45 Luas area lindung KLHK Hektar
46 Persentase area lindung KLHK %
47 Rasio kesejahteraan TNP2K Rasio
48 Rasio luas kecamatan terhadap luas daratan Potensi desa BPS 2019 Rasio
49 Jangkauan bandara Kemenhub Meter
50 Jarak ke pelabuhan Kemenhub Meter
51 Rasio KK terhadap luas area non-lindung Potensi desa BPS 2019 Rasio

Intisari Analisis Komponen Utama (PCA)
Tingkat Kepentingan Komponen
Komponen Standar Deviasi Proporsi Variansi Proporsi Kumulatif
PC1 3.0960 0.1997 0.1997
PC2 2.7621 0.1589 0.3586
PC3 2.6440 0.1456 0.5043
PC4 2.0829 0.0904 0.5947
PC5 1.6971 0.0600 0.6547
PC6 1.5139 0.0477 0.7024
PC7 1.4010 0.0409 0.7433
PC8 1.3351 0.0371 0.7804
PC9 1.1966 0.0298 0.8103
PC10 1.1455 0.0273 0.8376
PC11 1.1169 0.0260 0.8636
PC12 1.0898 0.0247 0.8883

2.0.1 Interpretasi Komponen Utama (PCs)

PC1: Predominan Bahaya Longsor, Tutupan Hutan, Topografi dan Demografi (19.97%)

PC2: Predominan Bahaya Hidrologis dan Ketersediaan Air Permukaan (15.894%)

PC3: Predominan Aksesibilitas terhadap air dan luas Kecamatan (14.564%)

PC4: Predominan karakteristik iklim(9.039%)

PC5: Predominan Aktivitas perubahan tutupan hutan dan fasilitas publik (6%)

2.0.2 Diagram pencar 3D tipologi kecamatan-kecamatan di Kabupaten Timor Tengah Selatan

  • Sumbu x,y dan z dari diagram pencar merupakan tiga komponen utama teratas dari hasil PCA.
    • PC1: Predominan Bahaya Longsor, Tutupan Hutan, Topografi dan Demografi
    • PC2: Predominan Bahaya Hidrologis dan Ketersediaan Air Permukaan
    • PC3: Predominan Aksesibilitas terhadap air dan luas Kecamatan
  • Tiap-titiknya mewakili sebuah kecamatan di Kabupaten Timor Tengah Selatan
  • Titik yang berwarna sama berarti tergolong dalam tipologi yang sama.

2.0.3 Cluster Validation

Titik ‘siku’ dari sebuah elbow plot adalah titik di mana menambahkan penambahan jumlah kluster tidak banyak memberikan tambahan informasi baru.

Plot siluet yang mendekati +1 menunjukkan pengelompokan yang baik, sementara nilai yang mendekati 0 atau nilai negatif menunjukkan pengelompokan yang tumpang tindih atau tidak baik.

3 Hasil & Interpretasi Sementara (Draft)

Tipologi Kerentanan Terhadap Perubahan Iklim pada Penghidupan Berbasis Pertanian di Kabupaten Timor Tengah Selatan

Tip

Tipologi padat penduduk di daratan rendah kering dan panas, dengan ekonomi yang ditopang oleh sektor non-pertanian dan tutupan lahan alami yang sedikit. Tipologi ini memiliki infrastruktur dan fasilitas publik yang baik, serta angka penderita gizi buruk dan kemiskinan yang relatif rendah.

3.0.1 Karakteristik berdasarkan analisis SWOT

3.0.1.1 Kekuatan (Strengths)

Faktor-faktor internal yang membantu pencapaian tujuan:

  • Kepadatan rumah tangga yang tinggi menandakan aktivitas ekonomi niaga dan jasa dapat memberikan stabilitas ekonomi karena tidak terlalu tergantung pada satu sektor.

  • Angka penderita gizi buruk yang rendah dan tingkat kemiskinan paling rendah mencerminkan tingkat kesejahteraan yang lebih baik.

  • Rasio elektrifikasi tinggi menunjukkan akses yang baik ke infrastruktur dasar dan mendukung aktivitas ekonomi.

  • Fasilitas kesehatan, pasar, sekolah tinggi, dan rumah sakit yang relatif banyak menandakan infrastruktur yang baik.

  • Aksesibilitas tinggi ke transportasi udara dan pelabuhan mendukung distribusi hasil niaga dan jasa


3.0.1.2 Kelemahan (Weaknesses)

Faktor-faktor internal yang menghalangi pencapaian tujuan:

  • Tidak punya lahan untuk memproduksi pangan secara mandiri, karena area yang dapat digunakan untuk pertanian sangat sedikit.

  • Area kering dan panas: Daerah dengan level kekeringan lahan tinggi, hal ini ditambah dengan rendahnya curah hujan rata-rata tahunan.

  • Rendahnya persentase area lindung dan tutupan hijau, menunjukkan ketergantungan atas penyediaan jasa lingkungan air bersih dari tipologi sekitarnya.


3.0.1.3 Peluang (Opportunities)

Faktor-faktor eksternal yang membantu pencapaian tujuan:

  • Pembangunan infrastruktur niaga: Memiliki akses yang baik, terdapat peluang untuk meningkatkan infrastruktur niaga, pengembangan pasar yang mendukung pertumbuhan bisnis.

  • Diversifikasi usaha: Kondisi topografi yang mendukung, aksesibilitas tinggi dan infrastruktur yang baik memberikan peluang untuk diversifikasi usaha di sektor niaga dan jasa, seperti pengembangan pusat perbelanjaan, hotel, atau pusat hiburan.


3.0.1.4 Ancaman (Threats)

Faktor-faktor eksternal yang menghalangi pencapaian tujuan:

  • Ketergantungan bahan baku pertanian: Bergantung pada suplai pangan dari luar tipologi, sehingga tidak dapat menjaga stok kebutuhan pangan penduduk sekaligus kestabilan harga. Hal ini menjadi ancaman serius karena tipologi 1 memiliki jumlah penduduk paling tinggi dibandingkan dengan tipologi lainnya.

  • Rentan cuaca ekstrem: Memiliki suhu tinggi, kekeringan lahan dan tanpa area penyangga perlindungan lingkungan memberikan ancaman kesehatan penduduk, bencana alam dan kelangsungan operasional sektor niaga dan jasa.

  • Kesenjangan ekonomi lebar: Masih terdapat cukup besar penduduk dengan kesejahteraan ekonomi rendah saat sebagian kecil penduduk memiliki kesejahteraan sangat tinggi. Ketidak merataan ekonomi dapat menjadi hambatan bagi perkembangan ekonomi dan usaha.

3.0.2 Karakteristik Umum

Aspek Demografi dan Ekonomi

  • Kepadatan rumah tangga yang paling tinggi, yaitu 5.89 rumah tangga/hektar (SD = 6.08), di mana lahan dibagi untuk menampung jumlah penduduk yang lebih besar dalam area yang lebih terbatas dibanding di tipologi lainnya.
  • Angka penderita gizi buruk yang relatif rendah dibandingkan dengan beberapa tipologi lainnya.
  • Rasio elektrifikasi tinggi (97.6%), menunjukkan akses yang baik ke listrik sehingga mendukung kegiatan ekonomi dan meningkatkan kualitas hidup penduduk.
  • Tingkat kemiskinan di tipologi satu paling rendah dibandingkan dengan beberapa tipologi lainnya 21.64 % (8.48). Ini dapat menggambarkan bahwa perekonomian dari niaga dan jasa memberikan kontribusi pada peningkatan kesejahteraan ekonomi di wilayah ini. Namun karena tipologi ini padat penduduk, secara jumlah, jumlah rumah tangga yang tergolong rentan secara ekonomi berada pada peringkat 3, rata-rata 2048 rumah tangga.
  • Memiliki total fasilitas kesehatan, pasar, sekolah tinggi, dan jumlah rumah sakit yang relatif tinggi. Ini menandakan adanya infrastruktur yang baik untuk mendukung kesejahteraan masyarakat.

Aspek iklim dan lingkungan

  • Indeks ariditas paling tinggi diantara tipologi lainnya (0.77 dengan SD 0.06), menunjukkan kondisi terkering, sehingga memerlukan manajemen air yang baik. Risiko kekeringan yang tinggi juga tercermin dari Indeks Bahaya Kekeringan sebesar 0.72, menempatkan tipologi 1 di peringkat kedua dalam hal kerentanan terhadap kekeringan. Ditambah dengan rata-rata bulan basah yang hanya sekitar 2.79 bulan, ini mengindikasikan bahwa tipologi 1 mengalami periode curah hujan yang lebih singkat dibandingkan kluster lainnya.
  • Memiliki curah hujan rata-rata relatif rendah (1315 mm/tahun), sehingga simpanan air pada musim hujan akan sedikit, berpotensi kering pada musim kemarau. Meskipun begitu, bahaya banjir dapat mengintai di musim hujan, ditunjuukan melalui indeks bahaya banjir menunjukkan nilai 0.09, tertinggi kedua dibandingkan tipologi lainnya.
  • Nilai suhu rata-rata kedua tertinggi dari seluruh tipologi, dengan rata-rata 25.51°C (standar deviasi 1.27°C). Hal ini mengindikasikan kondisi iklim yang daratan rendah yang hangat. tipologi ini diperkirakan akan mengalami peningkatan suhu sebesar 1.35°C pada dengan deviasi 0.07°C, menempatkannya di peringkat ketiga di antara enam kluster.
  • Risiko erosi paling rendah (447.46) dibandingkan dengan tipologi lainnya. Karakteristik area yang cenderung datar relatif lebih aman dari potensi kerusakan tanah akibat erosi.
  • Tutupan hijau dan vegetasi alami (hutan dan savana) paling rendah dibandingkan tipologi lainnya. Namun pada tipologi ini tercatat kejadian kebakaran hutan dan lahan tertinggi kedua, meski nilainya tergolong rendah.

Aspek tutupan lahan dan aksesibilitas

  • Persentase lahan yang dapat ditanami paling rendah rendah (8.12%), menunjukkan area yang berfokus pada sektor non-pertanian. Suplai hasil-hasil pertanian akan tergantung dari area di luar tipologi.
  • Tipologi dengan area kehilangan hutan paling rendah (358 ha), dibandingkan beberapa tipologi lainnya. Salah satu faktor karena pada tipologi ini area hutan sudah sangat kecil.
  • Jarak dari kegiatan deforestasi paling jauh (3.129 km) dibandingkan dari keseluruhan tipologi. Kondisi ini sejalan dengan karakteristik rendahnya area kehilangan hutan.
  • Persentase area lindung paling rendah (5.55%), karena sedikit memiliki area dengan peruntukkan perlindungan.
  • Jarak ke sungai tidak terlalu jauh (4.6 Km), menunjukkan akses yang cukup baik ke sumber air.
  • Jarak ke jalan cukup baik (1.2 Km), menunjukkan akses yang baik ke infrastruktur jalan.
  • tipologi yang memiliki akses termudah ke transportasi udara. Jarak ke pelabuhan terdekat nomor dua (49,67 Km), menunjukkan ketersediaan infrastruktur untuk logistik dalam distribusi hasil niaga dan jasa yang baik.
Tip

Tipologi ini memiliki kepadatan rumah tangga rendah dan tingkat kemiskinan tinggi, dengan akses listrik dan sumber air yang terbatas. Keunggulannya terletak pada tutupan hutan dan lahan pertanian yang luas, didukung oleh jaringan jalan yang baik. Namun, tipologi ini menghadapi risiko deforestasi, dan longsor, dengan infrastruktur kesehatan dan pendidikan yang kurang memadai.

3.0.3 Karakteristik berdasarkan analisis SWOT

3.0.3.1 Kekuatan (Strengths)

Faktor-faktor internal yang membantu pencapaian tujuan:

  • Dengan 34.9% lahan yang dapat ditanami, kawasan ini menawarkan potensi untuk peningkatan produksi pertanian.

  • Area lindung atau konservasi yang moderat (13.73%) dan persentase tutupan hutan tertinggi (40.47%)

  • Jarak rata-rata ke jalan raya yang dekat (0.987 km) memudahkan transportasi dan distribusi produk lokal.


3.0.3.2 Kelemahan (Weaknesses)

Faktor-faktor internal yang menghalangi pencapaian tujuan:

  • Kepadatan rumah tangga yang rendah dan tingkat kemiskinan yang tinggi (61.64%) menjadi tantangan dalam meningkatkan kesejahtraan dan pertumbuhan ekonomi.

  • Keterbatasan fasilitas kesehatan dan pendidikan, termasuk akses listrik yang rendah, menjadi hambatan utama dalam meningkatkan kesejahtraan.

  • Jarak jauh ke pelabuhan dan transportasi udara, serta keterbatasan akses ke sumber air, membatasi peluang untuk perkembangan dan pertumbuhan ekonomi berbasis pertanian


3.0.3.3 Peluang (Opportunities)

Faktor-faktor eksternal yang membantu pencapaian tujuan:

  • Investasi dalam infrastruktur kesehatan, pendidikan, dan transportasi dapat meningkatkan kualitas hidup dan membuka peluang ekonomi.

  • Tutupan hutan dan savanna yang luas serta area konservasi dapat menjadi daya tarik untuk pariwisata berkelanjutan.

  • Praktik pertanian cerdas iklim: dataran tinggi dengan suhu sejuk, dapat dimanfatkan untuk produksi tanaman pangan dan komoditi dengan iklim kering dan sejuk.

  • Dengan peningkatan suhu dan kekeringan, ada peluang untuk mengembangkan teknologi pertanian,penanaman komoditi dan varietas tanaman pangan yang lebih sesuai dengan iklim di masa mendatang.


3.0.3.4 Ancaman (Threats)

Faktor-faktor eksternal yang menghalangi pencapaian tujuan:

  • Risiko longsor yang tinggi, kebakaran hutan, dan perubahan iklim yang signifikan mengancam keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat.

  • Ketergantungan pada sumber air yang jauh dan terbatas dapat menjadi masalah serius dalam pengembangan pertanian dan kehidupan sehari-hari.

  • Kehilangan hutan yang signifikan dan potensi erosi tanah menimbulkan bencana, seperti banjir bandang, longsor dan kekeringan di musim kemarau

3.0.4 Karakteristik Umum

3.0.4.1 Sosio-Demografi:

  • Tipologi 3 memiliki kepadatan yang rendah, yaitu hanya 29 rumah tangga per km², urutan kelima di banding tipologi lainnya di Timor Tengah Selatan.
  • Sekitar 61.64% rumah tangga berada di bawah garis kemiskinan, menempati urutan terakhir dalam kesejahteraan, dengan jumlah rumah tangga kurang sejahtera mencapai 1714.22, urutan keempat tertinggi.
  • Ada sekitar 17 kasus gizi buruk per kecamatan di tahun 2018-2019, menempatkan tipologi ini di urutan kedua. Namun, hanya sekitar 3 fasilitas kesehatan tersedia per kecamatan, dengan ketersediaan rumah sakit yang terbatas.
  • Hanya 57.76% rumah tangga yang terlayani listrik, paling rendah di antara tipologi lainnya.
  • Terdapat 2 pasar dan pasar desa, tetapi minimarket jarang ditemui, menunjukkan kegiatan ekonomi informal yang dominan.
  • Terbatas pada rata-rata hanya 1.9 sekolah tinggi per kecamatan dengan sangat sedikit universitas.

3.0.4.2 Aspek Iklim dan Lingkungan

  • Terletak di perbukitan dan kaki gunung dengan elevasi rata-rata 508.56 mdpl dan suhu rata-rata 24.06 °C. Peningkatan suhu diperkirakan 1.42 °C pada tahun 2050.
  • Indeks kekeringan 0.79 dengan curah hujan tahunan 1428.59 mm. Hanya 3.55 bulan basah per tahun, dengan penurunan curah hujan -34.45 mm diperkirakan pada tahun 2050.
  • Risiko banjir rendah (indeks 0.03), tetapi risiko longsor cukup tinggi (indeks 0.39). Potensi erosi tanah moderat. Kebakaran hutan dan lahan dengan frekuensi 0.13 kejadian tahun 2018-2019.

3.0.4.3 Aksesibilitas terhadap infrastruktur dan tutupan lahan:

  • Kawasan ini memiliki lahan terluas di Timor Tengah Selatan, dengan 34.9% lahan yang dapat ditanami. Lahan perkebunan sangat sedikit, hanya 0.31% per kecamatan.

  • Area lindung atau konservasi moderat sekitar 13.73% atau 19.42 km² per kecamatan. Persentase tutupan hutan tertinggi (40.47%) dan savanna (11%). Kehilangan hutan antara 2015-2020 mencapai 5000 Ha, menjadikannya tipologi dengan luas deforestasi tertinggi.

  • Jarak rata-rata ke jalan raya adalah 0.987 km. Jarak ke pelabuhan, tergolong paling jauh, rata-rata 80.379 km begitu pula dengan jaraknya dari garis pantai. Akses transportasi udara juga tergolong paling terbatas.

  • Kecamatan rata-rata berjarak 17.85 km dari sungai dan 43.46 km dari badan air lainnya, dengan 12 embung per kecamatan. Area irigasi rata-rata hampir 78.44 hektar per kecamatan.

Tip

Tipologi ini, yang terletak di dataran rendah, memiliki kepadatan rumah tangga moderat dan luas lahan pertanian dengan infrastruktur irigasi terluas. Meski menghadapi tantangan seperti tingginya persentase rumah tangga kurang sejahtera dan kencenderungan gizi buruk tinggi, wilayah memiliki aksesibilitas transportasi yang baik dan akses ke sumber air yang dekat.

3.0.5 Karakteristik berdasarkan analisis SWOT

3.0.5.1 Kekuatan (Strengths)

Faktor-faktor internal yang membantu pencapaian tujuan:

  • Secara umum merupakan daratan rendah yang landai, memudahkan aktivitas pertanian dan pengembangan infrastruktur.

  • Kepadatan rumah tangga yang moderat (37 rumah tangga per km²) dengan jumlah rumah tangga terbanyak di TTS (22.5%), menjadi modal dalam menggerakkan ekonomi lokal.

  • Luas lahan pertanian besar (54.32% dari luas wilayah) dengan area irigasi terluas (383.33 ha per kecamatan).

  • Dekat dengan sumber air (kurang dari 5 km dari sungai) dan memiliki jumlah embung tertinggi (727.05 per kecamatan).

  • Fasilitas kesehatan dan pendidikan yang baik dibandingkan tipologi lainnya: 7.3 fasilitas kesehatan per kecamatan, 4 sekolah tinggi, dan 1 universitas setiap 2 atau 3 kecamatan, serta satu rumah sakit setiap 5 kecamatan.

  • Aksesibilitas transportasi yang baik (rata-rata berjarak 1.26 km dari jalan raya).


3.0.5.2 Kelemahan (Weaknesses)

Faktor-faktor internal yang menghalangi pencapaian tujuan:

  • Terdapat 1 dari 4 Rumah Tangga di Tipologi ini yang belum memperoleh aliran listrik ke rumahnya,

  • Tingginya persentase rumah tangga kurang sejahtera (49%).

  • Tingkat kejadian gizi buruk tertinggi dengan rata-rata 29.53 kasus per kecamatan.

  • Jarak ke pelabuhan yang umumnya relatif jauh (rata-rata 71.3 km). Meski umumnya terlayani transporasi udara, pada umumnya terbatas pada penerbangan dengan muatan kecil dengan frekuensi yang jarang.


3.0.5.3 Peluang (Opportunities)

Faktor-faktor eksternal yang membantu pencapaian tujuan:

-   Jaringan jalan yang tergolong baik dapat mempermudah proses pembangunan seperti:

-   Peningkatan layanan listrik dan fasilitas kesehatan untuk meningkatkan kualitas hidup.

-   Pembangunan fasilitas pendidikan untuk meningkatkan akses dan kualitas pendidikan bagi generasi muda

-   Meningkatkan akses ke pelabuhan untuk mendukung kegiatan ekonomi dan perdagangan.

-   Pengembangan irigasi dan pengelolaan sumber daya air untuk meningkatkan ketahanan terhadap kekeringan.

-   Praktik pertanian cerdas iklim dapat memaksimalkan efisiensi penggunaan air dan mengurangi emisi GRK dari praktik pertanian.

-   Perlindungan tutupan lahan alami untuk menjaga kelangsungan jasa lingkungan seperti penyediaan air.

------------------------------------------------------------------------

3.0.5.4 Ancaman (Threats)

Faktor-faktor eksternal yang menghalangi pencapaian tujuan:

  1. Prevalensi gizi buruk yang tinggi jika tidak ditangani segera, akan berdampak pada kualitas SDM di masa depan.

  2. Perubahan iklim yang diperkirakan meningkatkan suhu sebesar 1.35°C pada 2050, akan sangat berpengaruh untuk tipologi daratan rendah yang hari ini kondisi iklimnya sudah panas. Cuaca panas terik akan semakin sering ditemui, dan akan berpengaruh pada setiap sendi penghidupan, termasuk produksi pangan.

  3. Proyeksi penurunan curah hujan sebesar -20.77 mm pada 2050 yang dapat memperburuk kondisi kekeringan untuk tipologi yang hari ini sudah memiliki iklim kering (indeks kekeringan 0.69 ) dan bulan basah yang pendek. Namun dalam kondisi cuaca ekstrim di musim hujan, risiko banjir mengintai (indeks 0.13).

3.0.6 Karakteristik Umum

3.0.6.1 Sosio-Demografi:

  • Kepadatan rumah tangga di tipologi 6 adalah 37 rumah tangga per km², termasuk moderat di Timor Tengah Selatan, namun secara jumlah rumah tangga adalah yang terbanyak (22.5% dari total rumah tangga di TTS).

  • Sebanyak 49% rumah tangga kurang sejahtera, dengan rata-rata 2345 rumah tangga kurang sejahtera per kecamatan, yang kedua tertinggi.

  • Tingkat kejadian gizi buruk adalah yang tertinggi, dengan rata-rata 29.53 kasus per kecamatan.

  • Rata-rata 75% rumah tangga terlayani listrik, dengan 7.3 fasilitas kesehatan dan 1 rumah sakit setiap 5 kecamatan.

  • Pasar desa rata-rata 6.28 unit per kecamatan, tertinggi di antara tipologi lain, serta pasar dan minimarket yang tersedia di setiap kecamatan.

  • Akses pendidikan baik, dengan 4 sekolah tinggi per kecamatan dan 1 universitas setiap 2 atau 3 kecamatan.

3.0.6.1.1 Iklim dan Lingkungan:
  • Kontur landai dan datar, dengan elevasi rata-rata 152.72 mdpl dan kelerengan terendah (4.95°).

  • Suhu rata-rata 25.69°C, paling hangat dibandingkan tipologi lainnya. Diperkirakan semakin menghangat sebesar +1.35°C pada 2050.

  • Risiko banjir tergolong paling tinggi (indeks 0.13) dibandingkan dengan tipologi lainnya, dengan kejadian banjir dan banjir bandang tertinggi (3.29 dan 0.22 per kecamatan) dan 21.24 unit sistem peringatan dini.

  • Risiko kekeringan tinggi (indeks 0.69) dengan curah hujan tahunan 1350 mm dan proyeksi penurunan -20.77 mm pada 2050. Menunjukkan bahaya kekeringan, terutama di periode anomali musim, seperti el-nino.

  • Kebakaran hutan dan lahan terjadi dengan luasan rendah (0.36) dan lokasi rata-rata 13 km dari kecamatan.

  • Potensi longsor dan erosi sangat rendah.

3.0.6.2 Aksesibilitas Terhadap Infrastruktur dan Lahan:

  • Tipologi 6 memiliki luas lahan terluas kedua di TTS.

  • Lahan pertanian terbesar dengan 54.32% dari luas wilayah, dengan ditunjang area irigasi terbesar di antara tipologi lain (383.33 ha per kecamatan). Menunjukkan pertanian memiliki fungsi yang penting dalam penggerak ekonomi di tipologi ini. Namun lahan perkebunan sangat terbatas (hampir 1%).

  • Disamping itu, tipologi ini juga masih memiliki area lindung atau konservasi yang luas (21.83% atau 49 km² per kecamatan), dengan tutupan hutan 42.68% dan savanna 17.21%.

  • Aksesibilitas transportasi tergolong baik. Dengan jarak rata-rata 1.26 km dari jalan raya, dengan jarak ke pelabuhan yang agak jaug (71.3 km) namun cukup terlayani oleh bandara-bandara kapasitas kecil dan menengah.

  • Dekat dengan sumber air (kurang dari 5 km dari sungai), dengan 727.05 embung per kecamatan, tertinggi di daerah lain. Menunjukkan kemudahan akses terhadap aliran dan tampungan air permukaan.

Tabel statistik deskriptif

Karakteristik Sosio-ekonomi dan Lingkungan di Berbagai Kelas Tipologi: Analisis Rata-rata dan Standar Deviasi
Variabel Tipologi 1 Tipologi 2 Tipologi 3 Tipologi 4
annual temperature c change 1.4 (NA) 1.41 (0.01) 1.42 (0.02) 1.41 (0.02)
persentase lahan pertanian 10.19 (NA) 21.7 (21.99) 49.08 (20) 47.85 (28.13)
indeks kekeringan 0.73 (NA) 0.7 (0.05) 0.73 (0.02) 0.76 (0.02)
daerah irigasi ha 0 (NA) 0 (0) 0 (0) 122.17 (423.2)
deforestation area ha 1522 (NA) 5924.4 (1891.71) 6077.93 (2130.16) 6758.83 (2069.83)
distance daerah irigasi 22597.43 (NA) 24250.52 (6525.83) 22325.14 (8309.18) 15087.31 (7177.57)
jarak ke area terbakar 14527.11 (NA) 10180.42 (3976.44) 32028.22 (7553.21) 15928.22 (7825.85)
distance to coast line 32213.01 (NA) 21174.55 (7717.55) 10898.4 (5714.59) 22893.13 (8221.96)
jarak ke area deforestasi 334.79 (NA) 445.48 (188.85) 121.25 (168.85) 468.23 (294.33)
jarak ke hutan 1471.18 (NA) 369.42 (123.45) 1266.05 (802.38) 775.59 (638.6)
distance to irigation 132670.8 (NA) 142004.91 (6578.58) 166366.31 (15275) 140305.08 (19855.87)
distance to lake 3416.36 (NA) 8798.57 (2947.03) 8339.72 (3534.14) 7554.01 (3804.16)
jarak ke perkebunan 5516.82 (NA) 26451.42 (9396.66) 24746.8 (6986.87) 13816.84 (9423.7)
jarak ke konsesi perkebunan 21990.24 (NA) 22420.48 (6404.82) 60767.59 (11890.18) 33286.68 (16963.81)
distance to port 66178.03 (NA) 49096.57 (8833.35) 98108.09 (7922.38) 74673.53 (12559.11)
jarak ke sungai 2785.35 (NA) 1629.99 (358.77) 1386.64 (410.55) 1697.78 (667.96)
jarak ke jalan 179.81 (NA) 1300.91 (731.84) 544.61 (153.21) 798.65 (164.67)
distance to social forestry concession 6746.74 (NA) 9464.22 (6322.97) 13851.65 (5736.67) 11735.25 (9098.34)
distance to water body 3578.44 (NA) 2954.71 (1484.18) 2799.09 (1503.5) 2632.31 (943.59)
elevasi 758.71 (NA) 957.56 (237.28) 468.98 (160.11) 411.43 (167.27)
embung 7 (NA) 9.2 (9.2) 8.93 (10.1) 20.08 (7.86)
erosion risk 78.91 (NA) 622.24 (501.08) 167.13 (223.1) 424.58 (182.32)
idm 2021 0.62 (NA) 0.55 (0.02) 0.53 (0.03) 0.57 (0.03)
indeks risiko banjir 0.03 (NA) 0 (0) 0.01 (0.02) 0.06 (0.05)
indeks bahaya kekeringan 0.81 (NA) 0.81 (0.01) 0.75 (0.05) 0.76 (0.06)
indeks risiko longsor 0.18 (NA) 0.59 (0.12) 0.55 (0.18) 0.25 (0.14)
jumlah sistem peringatan dini bencana alam 24 (NA) 17.2 (10.73) 18.07 (5.74) 15.58 (3.34)
kejadian banjir 2018 2019 0 (NA) 0 (0) 0 (0) 1.33 (2.15)
kejadian banjir bandang 2018 2019 0 (NA) 0 (0) 0 (0) 0 (0)
kejadian kebakaran hutan dan lahan 2018 2019 1 (NA) 0 (0) 0.14 (0.36) 0 (0)
kejadian kekeringan lahan 2018 2019 2 (NA) 0 (0) 0.07 (0.27) 0.83 (2.04)
kejadian tanah longsor 2018 2019 5 (NA) 1 (1.41) 1.43 (1.87) 0.92 (1.68)
korban banjir 2018 2019 0 (NA) 0 (0) 0 (0) 0 (0)
korban banjir bandang 2018 2019 0 (NA) 0 (0) 0 (0) 0 (0)
korban kebakaran hutan dan lahan 2018 2019 0 (NA) 0 (0) 0 (0) 0 (0)
korban kekeringan lahan 2018 2019 0 (NA) 0 (0) 0 (0) 0 (0)
korban tanah longsor 2018 2019 0 (NA) 0 (0) 0.14 (0.53) 0 (0)
luas ha 2732 (NA) 14850.6 (4713.51) 8471.14 (3805.19) 16692.5 (6992.96)
mean precipitation 1430.75 (NA) 1481.99 (103.49) 1460.79 (49.94) 1378.28 (36.14)
mean temperature 22.9 (NA) 21.73 (1.31) 24.09 (0.81) 24.6 (0.89)
minimarket 3 (NA) 0 (0) 0 (0) 0.17 (0.39)
ndmi 2020 0.16 (NA) 0.2 (0.05) 0.21 (0.02) 0.17 (0.04)
ndvi 2020 0.61 (NA) 0.68 (0.05) 0.67 (0.03) 0.64 (0.05)
ndwi 2020 -0.61 (NA) -0.66 (0.03) -0.64 (0.02) -0.62 (0.03)
pasar desa 0 (NA) 1 (0.71) 1.79 (1.31) 1.92 (1.62)
penderita gizi buruk 2018 8 (NA) 24.4 (22.51) 33.43 (23.64) 32.17 (48.64)
percent protected area ha 0 (NA) 33.6 (23.77) 1.29 (2.8) 9.48 (8.86)
percentage of agricultural small holder 10.19 (NA) 21.7 (21.99) 49.08 (20) 47.85 (28.13)
percentage of forested area 0.62 (NA) 54.9 (26.65) 16.65 (20.81) 49.57 (27.64)
percentage of plantation 0 (NA) 0 (0) 0 (0) 0.26 (0.49)
percentage of savanna 5.38 (NA) 20.88 (13.63) 2.66 (4.86) 14.06 (10.57)
percentage of shrubland 0 (NA) 22.95 (16.27) 5.54 (7.55) 19.86 (10.83)
percentage of water area 0 (NA) 3.28 (2.89) 1.33 (0.84) 4.79 (4.88)
pop dens 3.22 (NA) 0.19 (0.1) 0.47 (0.1) 0.27 (0.11)
poverty ratio 12.45 (NA) 64.06 (14.01) 66.69 (8.41) 62.99 (10.58)
precipitation change -29.29 (NA) -30.8 (5.06) -38.36 (6.1) -27.17 (9.46)
protected area ha 0 (NA) 5509.4 (5033.34) 147.29 (349.17) 1748.83 (2016.33)
rasio elektrifikasi 94.33 (NA) 64.01 (13.9) 34.88 (14.79) 51.89 (20.49)
ratio kec to island 0 (NA) 0.01 (0.01) 0 (0) 0.01 (0.01)
ratio rt apl 3.22 (NA) 0.3 (0.12) 0.47 (0.1) 0.3 (0.15)
slope 6.03 (NA) 12.9 (2.58) 11.93 (2.71) 7.26 (1.51)
tnp2k indv 5292 (NA) 7206.8 (4265.63) 10018.29 (4496.57) 10755 (4512.74)
tnp2k rt 1096 (NA) 1652.2 (891.65) 2544.43 (1073.57) 2529.67 (1011.98)
total faskes1 3 (NA) 2.6 (0.89) 2.43 (1.5) 2.33 (0.98)
total kk 8801 (NA) 2768.6 (1855.98) 3848.07 (1576.73) 4039.17 (1414.73)
total pasar 1 (NA) 2.2 (1.3) 2.86 (1.41) 2.75 (1.48)
total pt 4 (NA) 0 (0) 0.14 (0.53) 0.08 (0.29)
total rs 2 (NA) 0 (0) 0 (0) 0 (0)
total sekolah tinggi 15 (NA) 2 (1.87) 2.5 (1.61) 2.58 (1.78)
wetmonths mean 4 (NA) 3.89 (0.17) 3.84 (0.24) 3.73 (0.24)
within airport coverage 0 (NA) 0 (0) 0 (0) 0 (0)
Apa itu rata-rata dan standar deviasi?

Rata-Rata

Rata-rata adalah angka yang sering kita gunakan untuk mengetahui gambaran umum dari sekelompok data. Misalnya, jika rata-rata jarak ke jalan terdekat di daerah urban cuma 0,24 km, ini menunjukkan bahwa umumnya daerah tersebut dekat dengan jalan raya.

Standar Deviasi

Standar deviasi (SD) memberitahu kita seberapa besar variasi atau perbedaan antar angka dalam sekelompok data. Semakin tinggi SD, makin besar juga variasinya. Misalnya, rata-rata jarak ke jalan terdekat di daerah urban adalah 0,24 km dengan SD 0,45 km. Ini artinya yang sangat dekat dengan jalan, tetapi juga ada yang jauh—bahkan lebih dari dua kali lipat dari rata-rata.

Nilai standar deviasi (SD) yang besar, seperti contoh diatas, menjadi indikasi bahwa, rata-rata mungkin tidak memberikan gambaran yang mewakili suatu tipologi. Dalam hal ini, standar deviasi memberikan konteks tambahan yang penting untuk memahami sejauh mana data bervariasi.

Kode warna pada tabel dibawah menunjukkan rentang nilai dari variabel yang diberikan untuk masing-masing tipe wilayah. Warna biru gelap menunjukkan nilai yang lebih tinggi, sementara warna yang lebih merah terang menunjukkan nilai yang lebih rendah.

Tipologi 1 Tipologi 2 Tipologi 3 Tipologi 4
annual_temperature_c_change 1.40 1.41 1.42 1.41
arable_land_percent 10.19 21.70 49.08 47.85
aridity_index 0.73 0.70 0.73 0.76
daerah_irigasi_ha 0.00 0.00 0.00 122.17
deforestation_area_ha 1522.00 5924.40 6077.93 6758.83
distance_daerah_irigasi 22597.43 24250.52 22325.14 15087.31
distance_to_burned_area 14527.11 10180.42 32028.22 15928.22
distance_to_coast_line 32213.01 21174.55 10898.40 22893.13
distance_to_deforestation 334.79 445.48 121.25 468.23
distance_to_forest 1471.18 369.42 1266.05 775.59
distance_to_irigation 132670.80 142004.91 166366.31 140305.08
distance_to_lake 3416.36 8798.57 8339.72 7554.01
distance_to_plantation 5516.82 26451.42 24746.80 13816.84
distance_to_plantation_concession 21990.24 22420.48 60767.59 33286.68
distance_to_port 66178.03 49096.57 98108.09 74673.53
distance_to_river 2785.35 1629.99 1386.64 1697.78
distance_to_road 179.81 1300.91 544.61 798.65
distance_to_social_forestry_concession 6746.74 9464.22 13851.65 11735.25
distance_to_water_body 3578.44 2954.71 2799.09 2632.31
elevasi 758.71 957.56 468.98 411.43
embung 7.00 9.20 8.93 20.08
erosion_risk 78.91 622.24 167.13 424.58
idm_2021 0.62 0.55 0.53 0.57
indeks_bahaya_banjir 0.03 0.00 0.01 0.06
indeks_bahaya_kekeringan 0.81 0.81 0.75 0.76
indeks_bahaya_longsor 0.18 0.59 0.55 0.25
jumlah_sistem_peringatan_dini_bencana_alam 24.00 17.20 18.07 15.58
kejadian_banjir_2018_2019 0.00 0.00 0.00 1.33
kejadian_banjir_bandang_2018_2019 0.00 0.00 0.00 0.00
kejadian_kebakaran_hutan_dan_lahan_2018_2019 1.00 0.00 0.14 0.00
kejadian_kekeringan_lahan_2018_2019 2.00 0.00 0.07 0.83
kejadian_tanah_longsor_2018_2019 5.00 1.00 1.43 0.92
korban_banjir_2018_2019 0.00 0.00 0.00 0.00
korban_banjir_bandang_2018_2019 0.00 0.00 0.00 0.00
korban_kebakaran_hutan_dan_lahan_2018_2019 0.00 0.00 0.00 0.00
korban_kekeringan_lahan_2018_2019 0.00 0.00 0.00 0.00
korban_tanah_longsor_2018_2019 0.00 0.00 0.14 0.00
luas_ha 2732.00 14850.60 8471.14 16692.50
mean_precipitation 1430.75 1481.99 1460.79 1378.28
mean_temperature 22.90 21.73 24.09 24.60
minimarket 3.00 0.00 0.00 0.17
ndmi_2020 0.16 0.20 0.21 0.17
ndvi_2020 0.61 0.68 0.67 0.64
ndwi_2020 -0.61 -0.66 -0.64 -0.62
pasar_desa 0.00 1.00 1.79 1.92
penderita_gizi_buruk_2018 8.00 24.40 33.43 32.17
percent_protected_area_ha 0.00 33.60 1.29 9.48
percentage_of_agricultural_small_holder 10.19 21.70 49.08 47.85
percentage_of_forested_area 0.62 54.90 16.65 49.57
percentage_of_plantation 0.00 0.00 0.00 0.26
percentage_of_savanna 5.38 20.88 2.66 14.06
percentage_of_shrubland 0.00 22.95 5.54 19.86
percentage_of_water_area 0.00 3.28 1.33 4.79
pop_dens 3.22 0.19 0.47 0.27
poverty_ratio 12.45 64.06 66.69 62.99
precipitation_change -29.29 -30.80 -38.36 -27.17
protected_area_ha 0.00 5509.40 147.29 1748.83
rasio_elektrifikasi 94.33 64.01 34.88 51.89
ratio_kec_to_island 0.00 0.01 0.00 0.01
ratio_rt_apl 3.22 0.30 0.47 0.30
slope 6.03 12.90 11.93 7.26
tnp2k_indv 5292.00 7206.80 10018.29 10755.00
tnp2k_rt 1096.00 1652.20 2544.43 2529.67
total_faskes1 3.00 2.60 2.43 2.33
total_kk 8801.00 2768.60 3848.07 4039.17
total_pasar 1.00 2.20 2.86 2.75
total_pt 4.00 0.00 0.14 0.08
total_rs 2.00 0.00 0.00 0.00
total_sekolah_tinggi 15.00 2.00 2.50 2.58
wetmonths_mean 4.00 3.89 3.84 3.73
within_airport_coverage 0.00 0.00 0.00 0.00